Blog ini dibuat untuk mendeskripsikan berbagai potensi yang ada di bumi ini. mulai dari panorama, seni budayanya, makanan khas, hingga adat istiadatnya.

Tujuan saya menulis blog ini, tak lain untuk membiasakan diri untuk sering menulis dan semoga tulisan ini bisa menjadi referensi bagi pembaca dan saya sendiri. Maka dari itu, saya berusaha merangkum kondisi tempat yang bagi saya menarik serta pengalaman saya mengunjungi suatu tempat.

Semoga berguna bagi kita semua. :)

Selasa, 18 Maret 2014

Gunung Dempo, Pagar Alam, Sumatera Selatan (04 - 11 Maret 2014)

Bermula dari skripsi yang belum ada pergerakan secara signifikan dan anjuran dosen pembimbing untuk mengganti kasus tapi belum juga mendapatkan titik terang, tiba-tiba datanglah ajakan seorang teman untuk ke Gunung Dempo, Pagar Alam, Sumatera Selatan. Seketika ide yang buntu pun dapat pemecahan untuk mengganti kasus skripsi yang awalnya meneliti tentang daun padi diganti dengan daun teh, karena di Pagar Alam merupakan lokasi perkebunan teh yang sangat luas.

4 Maret 2014
Start hari selasa sore, aku dan 4 orang teman, 3 laki-laki dan 1 perempuan, bergerak dari sekret mapala Pajarpala menuju terminal karya jaya. Sekitar pukul setengah 4, bis telaga biru yang kami naiki, segera berangkat menuju Pagar Alam. Tak banyak cerita selama perjalanan, aku tertidur hampir di sepanjang jalan yang menghabiskan waktu sekitar 7 jam. Pukul 11 malam, kami tiba di Basecamp Ayah Anton di Kampung I, istirahat sebentar dan tepat pukul 12 malam, kami memulai perjalanan menuju Kampung IV. Untuk latihan fisik, dari kampung I menuju kampung IV, kami berjalan kaki melipir melewati jalan aspal. Maklum, aku dan teman cewek yang satu lagi, bukan anggota mapala dan aku pribadi baru ini benar-benar mendaki gunung, karena sebelumnya rata-rata hanya mencoba gunung yang sudah beraspal hingga puncak.

5 Maret 2014
Sekitar pukul 3 dini hari, kami istirahat dan mendirikan tenda di sebuah tanah yang cukup lapang di kawasan kebun teh.  Tak lama, aku tertidur dan bangun sekitar jam 9 pagi, kemudian mengambil beberapa sampel daun teh untuk bahan skripsi sembari menikmati pagi diantara hijaunya kebun teh yang terhampar luas.
 
Kebun Teh
Sekitar pukul 09:55, tenda dan peralatan lainnya sudah di packing, kami pun melanjutkan perjalanan menuju kampung IV dan tiba di sana sekitar pukul 11:50. Langsung makan dan membeli logistik di warung, sambil sedikit beristirahat di warung ini. Selanjutnya, kami bergerak ke Shelter Kampung IV (Resort) untuk ngecamp 2 malam di lokasi tersebut, dengan tujuan adaptasi dengan suhu dingin gunung.

Selama di sini, kami hanya menikmati suasana dingin sejuk di kaki gunung ini, dan di isi dengan bernarsis serta menghangatkan diri dengan kehangatan api unggun saat malam. Sayangnya, kebiasaan tidur cepat masih melekat, hari belum terlalu malam, tapi mata sudah berat. Ya, sejak kemarin, aku menjadi penghuni tenda yang pertama, karena rasa ngantuk yang hadir duluan. Pukul 9 malam aku langsung ngacir ke tenda dan tidur.

Resort
6 Maret 2014
Tidur cepat, bangun juga lumayan cepat dan lebih dulu. Pukul 7 pagi aku bangun lalu menuju kampung IV bersama seorang teman untuk belanja bahan masak. Berhubung perut sudah lapar, jadi sarapannya duluan di warung. Sekitar setengah 9, kami kembali ke tenda dan hari ini ternyata hujan turun cukup deras. Kami hanya duduk, berceloteh, berfoto dan masak-masak di sebuah pondok kayu yang tersedia di sini. Cukup lama hujan mengguyur hingga petang, sehingga membuat suhu semakin dingin.

Untunglah malam ini cerah, bintang bertaburan di langit dan disempatkan untuk belajar sedikit ilmu navigasi dari bintang lalu di lanjutkan dengan acara api unggun. Menghangatkan diri dari hari yang dingin pasca hujan yang hampir seharian. Kali ini, aku berhasil tidur sedikit lebih malam, hahaha.

Resort
7 Maret 2014
Hari ini kami akan melanjutkan perjalanan mendaki Gunung Dempo. Pagi pukul 8, aku bangun dan tak lama aku dan seorang teman kembali menuju Kampung IV untuk belanja logistik, sedang para lelaki packing tenda, peralatan dan lain-lain.

Pukul 11 pagi kami baru bergerak menuju pintu rimba, melewati kebun teh. Karena permulaan dan tubuh belum panas, rasanya cukup sulit melewati kebun teh yang berjalan sempit, licin serta menanjak. Jujur, sejak dari bawah dan melihat puncak Dempo, aku tidak yakin akan menjejaki puncaknya, saat memulai pendakian pun aku terlalu malas untuk menyemangati diri. Setiba di Pintu Rimba, sebuah tulisan terbaca “Ingatlah Tuhan Bersama Orang-orang Pemberani”. Terlintas di pikiran, tidak ada yang tidak mungkin, yang penting usaha, tuhan bersamaku. Perjalanan pun di mulai menuju Shelter I, semangat mulai muncul, terutama setelah tiba di Shelter 1, belum ada rasa lelah yang sangat, hanya nafas yang kadang menderu selama di jalur pendakian.

Kami
Di shelter 1, sebuah tempat datar, namun tak begitu luas, kami istirahat sejenak kemudian perjalanan di lanjutkan melewati dinding lemari yang memaksa sedikit memanjat. Perjalanan dari dinding lemari menuju Shelter 2 terasa cukup panjang namun terasa cukup mengasyikkan. Mungkin karena mesin di kaki sudah panas, hahaha.

Setelah berjalan dan berjalan, akhirnya tiba juga di Shelter 2. Jam menunjukkan pukul 4 dan kami memutuskan untuk bermalam di sini. Sebenarnya ada rasa ingin lanjut saja, karena tak sabar ingin melihat puncak, tapi karena ini memang niatnya nyantai dan menikmati perjalanan, kami pun mendirikan tenda di sini.

Malam hari dihabiskan ngobrol-ngobrol di tenda, dan hampir semua dari kami kadang-kadang mencuri-curi kesempatan tiduran, dengan alasan “ga tidur, Cuma lurusin pinggang” atau “ga tidur, Cuma merem bentar” dan beragam alasan lainnya, hingga tercetus kalimat “pendakian modus”, modus biar bisa tidur. Musuh utama yang tidur-tiduran adalah senter dengan bahan yang terbuat dari besi. Berhubung suhu yang dingin, badan senter pun jadi sangat dingin dan bisa dipastikan, yang terbuai tidur tiba-tiba kaget dan bangun saat pipi di tempel dengan dinginnya badan senter. Malam semakin larut, dan akhirnya semua tertidur dengan posisi kaki di tengah dan bertumpuk-tumpuk. Sangat tidak recommended Hahaha

8 Maret 2014
Pagi ini, hampir semua bangun pagi, tapi masih bermalas-malasan di tenda dan mengisi waktu dengan foto-foto. Bahkan, para cowok-cowok  malah selfie dengan gaya sok imut. Haahaha. Setelah sarapan dan ngopi campur ngeteh, persiapan menuju top dempo dan pelataran pun di mulai. Perjalanan dari shelter 2 menuju top dempo, dimulai sekitar pukul setengah 11. Ketika melewati cadas, kami berjumpa dengan pendaki yang sebelumnya kami temui di kampung IV, sewaktu kami membeli logistik. Mereka akan turun, dan benar-benar rejeki karena mereka masih ada sisa logistik berupa roti kacang untuk mengisi perut kami yang lapar.

Sebenarnya logistik ada di daypack teman di belakang, kami bertiga berada di depan jalan lebih dulu. Jadi, kalau lapar kalau ga nunggu ya tahan. Dengan perjumpaan ini, perut terselamatkan oleh sang roti kacang. Mereka juga memberi tahu, bahwa mereka meninggalkan beras, minyak dan jelly di pelataran, lumayan buat tambahan logistik. Cukup lama beristirahat di sini sambil makan dan ternyata, teman yang di belakang juga dapat pengisi perut berupa coklat dari pendaki yang tadi. Di cadas inilah juga aku dapat nama gunung “Buduk” yang berarti “Budak Tiduk” (Bocah Tidur), oleh teman yang sebelumnya berada di belakang. Nama ini diberikan karena memang aku yang paling hobi tidur. Saat mereka tiba di tempat kami, tak lama kami lanjut ke atas lagi.

Cadas
Pendakian menuju Top dempo terasa benar-benar melelahkan, kaki pun mulai terasa lemas. Saat harus memanjat rasanya harus benar-benar mengumpulkan tenaga dan semangat. Sempat rasanya ingin tidur saja. Satu tanjakkan sedikit lebih tinggi dari dengkul harus di panjati dan karena kaki yang sudah cukup lemas, aku hampir terjatuh. Di sini aku benar-benar malas untuk lanjut, tapi rasa ingin menikmati puncak yang sedari kemarin ku jejaki masih mengganjal di hati. Teman-teman pun meneriakkan kata-kata yang cukup menyebalkan tapi memang cukup membakar semangat. “Sa, ayoo terus! Ini tanah lo, lo orang Sumatera, masa kalah semangat sama yang dari Jawa. Nanti sampe top bisa tiduran sambil nunggu”, kebetulan teman yang satu lagi berasal dari Bandung. Sempat aku bantah dengan jawaban “jangan rasis!”, tapi saya tahu maksudnya hanya untuk menyemangati karena ternyata, hanya berjalan sedikit, tulisan “DEMPO 3159 MDPL” sudah di depan mata. Aku berhasil tiba di puncak ini, sesuatu yang hampir mustahil kurasa. Tiba di sini, justru bukan ingin tiduran, tapi semangat mulai muncul lagi, ada rasa yang membuat semangat terbakar lagi, untuk melihat kawah di puncak merapi.
Top Dempo
Tiba di Top sekitar pukul 1 siang dan tak lama menunggu, dua teman kami pun muncul. Istirahat sebentar lalu kami turun ke pelataran untuk mendirikan tenda. Rencana hari ini, sore nanti kami akan ke puncak merapi untuk menikmati sunset, sayangnya hujan turun cukup deras, sehingga matahari tak muncul senja ini. Sore setelah hujan berhenti, saya menikmati sore dengan berjalan sendiri di pelataran menyusuri sebuah belahan yang merupakan bagian dari Telaga Putri. Karena berbahaya dan kabut, seorang teman berteriak memanggil saya untuk jangan terlalu jauh dan saat kembali sedikit ngobrol dengan pendaki di tenda lain yang baru sampai.

Malamnya saya ketiduran, mungkin juga karena lelah. Mungkin saya melewatkan malam yang tak biasa, tapi tubuh juga punya hak. Aku tertidur dan terbangun fajar.
 
Pelataran
9 Maret 2014
Rencana kami ingin melihat sunrise, sayangnya masih ada yang tidur dan belum juga mau bangun setelah dibangunkan. Alhasil, semua tidur lagi. Setengah 8, aku mulai bosan di tenda dan keluar untuk berjalan-jalan di pelataran menikmati segarnya pagi ini. Untunglah hari ini cerah, tak sabar rasanya menuju ke puncak merapi. Sekitar pukul 10, barulah kami bergerak menuju Puncak Merapi untuk melihat kawah dan menikmati suasana di sini.

Menuju Puncak Merapi
Setibanya di Puncak Merapi, akhirnya salah satu keinginan untuk melihat kawah di atap Sumatera Selatan ini terwujud. Hari pun sangat cerah dan kawah yang kami dapat berwarna cantik, hijau kebiruan. Kabut hanya sebentar muncul kemudian hilang, sehingga pemandangan luas baik ke kawah maupun ke pelataran tampak jelas. Sayang, tidak sempat menuju pintu langit yang mana katanya, pemandangannya lebih indah.

Puncak Merapi
Puas berfoto dan bersantai-santai di sini, kami turun sekitar pukul 12 untuk packing dan persiapan turun. Sekitar pukul 1 siang, kami mulai bergerak turun menuju Kampung IV. Turun ternyata lebih mengerikan dari naik, walaupun tidak terasa. Sesekali turun dengan berlari dan meloncat, sampai akhirnya kaki kiri di dalam sepatu agak lecet dan membuat mobilitas kurang. Banyak mengandalkan kaki kanan yang akhirnya membuat kaki kanan terasa sangat lemas.

Puncak lemas kaki terasa saat dari Shelter 1 menuju pintu rimba. 2 kali terpeleset saat melewati jalan tikus yang membuat kedua sepatu terendam di dalam kubangan tanah yang becek. Pelan tapi pasti, dengan semangat “sampe kampung IV, nasi goreng pake telor” barulah sekitar pukul 4, kami tiba di Pintu Rimba. Beristirahat yang memang sedikit lebih lama, membuat kaki terasa lebih lemas saat kembali di gerakkan. Baru saja berdiri dan berjalan, kaki seperti ingin terlipat dan teman yang cewek melihat kejadian tersebut, kemudian menertawai saya. Lucunya, saat dia tertawa, kakinya juga sedang lemas yang membuatnya justru terduduk. Akhirnya kami saling menertawakan bahkan saat melewati kebun teh untuk menuju Kampung IV, kami sering menertawakan diri sendiri ataupun saling menertawakan. Dengan sedikit terseok, akhirnya kami tiba di Kampung IV, langsung memesan makan dan membersihkan kaki yang penuh tanah.
Pintu Rimba (kiri) dan Titik Awal Pendakian (kanan)
Sepiring nasi goreng pake telor dan teh hangat, mengisi perut insan-insan yang kelaparan. Malam ini, kami tak langsung ke Basecamp Ayah Anton. Kami menginap semalam di balai desa dan rejeki masih ga kemana. Nemu juga logistik di dalam balai walaupun yang kami pakai cuma spiritus untuk membuat kopi dan teh.

Malamnya, yang cewek tertidur lebih dulu dan ternyata saat aku tidur ada sedikit insiden mistis. Untunglah aku tidur dan tidak tahu walaupun keesokan harinya mendengar ceritanya.

10 Maret 2014
Pagi hari, aku bangun lebih dulu. Karena bosan tiduran, aku keluar dan menikmati hamparan kebun teh serta sejuknya udara pagi. Tak lama, seorang teman mengajak masuk untuk ngeteh. Kabut juga mulai turun dan di luar terasa semakin dingin. Setelah mandi dan santai-santai, kembali ke warung untuk sarapan. Kami hanya bertiga awalnya, karena dua orang masih tidur. Kali ini, kami pesan 3 nasi goreng, 2 mie kuah. SANTAP!

Saat akan kembali ke balai, yang tertidur tadi muncul ke warung dan ikut sarapan. Tak lama, ada mobil pick up pengangkut kubis yang sama pada saat kami ngecamp di resort kemarin. Setelah di tanya, dia memperbolehkan untuk ikut ke kampung 1. Lumayan gratis~

Pukul 11 kami packing barang dan bersiap menunggu mobil pick up selesai meletakan kubis-kubisnya di bak. Ada 2 mobil, jadi saya dan seorang teman ikut mobil yang belakang. Ada miskomunikasi di sini, sehingga 2 mobil terpisah dan kami malah di bawa ke pasar. Namun, abang yang nyetir ternyata sangat baik, dia bersedia mengantarkan kami kembali ke kampung 1 untuk menemui teman kami yang lain setelah beliau menyerahkan kubis-kubisnya di truk yang ada di pasar. Sekitar pukul 3 kami tiba di kampung 1, nyantai di warung di sebelah pabrik pengolahan teh milik PTPN. Tak lama, ada Ayah Anton datang untuk ngopi. Kami pun ngobrol-ngobrol di satu meja sebelum lanjut ke basecamp. Sekitar pukul setengah 5 barulah kami ke sana dan istirahat menunggu bis yang menjemput untuk kembali ke Palembang.

Jam 8 kurang kami duduk di pinggir jalan dan tak lama bis pun datang. Perjalanan kembali ke Palembang pun di mulai.

11 Maret 2014
Bis tiba di Bungaran (Palembang) sekitar pukul setengah enam  pagi. Setelah di jemput dengan motor, aku beristirahat sebentar di sekret Mapala Pajarpala dan kemudian ketiduran. Pukul 10 saya dibangunkan dan diantar pulang ke rumah.


Mungkin rada pasaran, tapi benar kata orang. Alam mengajariku banyak hal, baik secara logis maupun yang tak logis. Mengajarkan beragam hal yang sudah pasti tidak akan pernah aku dapatkan di bangku sekolah ataupun kuliah. Mungkin jika di jelaskan, terlalu rumit dalam rangkaian kata atau mungkin bisa jadi lebay. Biarlah ini jadi pelajaran hidup, yang kelak bisa melatih diri menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Ya, perjalanan kali ini sebenarnya bertujuan untuk langkah penyelesaian akademik, tapi bonus yang aku dapat, lebih dari itu. Terimakasih semesta, Terimakasih 3159 mdpl J

Hal yang kurindukan mungkin bukan puncaknya. Tapi jalur pendakian yang menjadi saksi atas apa yang terbesit dalam hati. Puncak adalah pencapaian yang menjadi titik pertanda untuk persiapan kembali. Kembali melintasi jalur dengan rasa berbeda, pandangan berbeda dan tujuan yang berbeda. Kembali mencapai kesuksesan, pulang ke rumah dengan selamat, berjumpa keluarga :) 

2 komentar: