Blog ini dibuat untuk mendeskripsikan berbagai potensi yang ada di bumi ini. mulai dari panorama, seni budayanya, makanan khas, hingga adat istiadatnya.

Tujuan saya menulis blog ini, tak lain untuk membiasakan diri untuk sering menulis dan semoga tulisan ini bisa menjadi referensi bagi pembaca dan saya sendiri. Maka dari itu, saya berusaha merangkum kondisi tempat yang bagi saya menarik serta pengalaman saya mengunjungi suatu tempat.

Semoga berguna bagi kita semua. :)

Rabu, 14 September 2016

Kampung Budaya Sindangbarang dan Curug Nangka, Bogor, Jawa Barat (10-12 September 2016)


Bogor merupakan salah satu alternatif wisata khususnya bagi wisatawan dari Ibukota karena jarak yang tidak begitu jauh. Bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada hari Senin tanggal 12 September 2016, aku berencana untuk berlibur ke Bogor karena tiket pulang ke Palembang saat itu sangat mahal. Sabtu sore aku berangkat bersama Yayang teman kantorku dan menginap di rumahnya yang berlokasi di Ciomas, Bogor. Esok paginya Citra (teman kuliahku dulu dan juga teman sekolahnya Yayang), akan datang menyusul.

Sabtu, 10 September 2016

Sore hari, aku mulai bergerak dari kost menuju meeting point, halte busway Sumur Bor dan Yayang sudah tiba lebih dulu di sana. Perjalanan kami lanjutkan menuju Halte Juanda karena kami akan naik KRL menuju Bogor dari Stasiun Juanda. Sekitar pukul 7 kereta pun datang, kami segera naik dan tiba di Bogor sekitar pukul setengah 9 malam. Sebelum menuju rumah Yayang, kami sempat mencari makanan di daerah Jembatan Merah dan di tempat ini ada begitu banyak jenis makanan yang cukup menggugah selera, apalagi jika sedang lapar seperti ini. Setelah bingung mencari makan malam, akhirnya pilihan jatuh ke Sate dan setelahnya memesan ojek untuk mengantar kami ke daerah Ciomas.
Stasiun Juanda

Ojek pesananku datang terlebih dahulu kemudian diikuti Ojek Yayang. Sayangnya, mungkin kang ojek ku tidak mendengar bahwa aku memintanya mengikuti ojek satunya dan terus berjalan. Saat di jalan, ia pun bilang bahwa dia tau jalan ke kompleknya dan nanti kami akan menunggunya di gerbang komplek. Setibanya di gerbang komplek, Yayang belum juga muncul sampai akhirnya kang ojek pun melihat bahwa saat memesan, Yayang mengetikkan blok dan nomer rumahnya, akhirnya kami pun bergerak menuju blok yang dimaksud. Kami berjalan semakin kedalam dan tiba di blok yang sama, kemudian dilanjutkan mencari nomer rumahnya. Tetapi, belum sampai nomer yang dimaksud, jalan sudah habis dan di ujung jalan kami melewati tempat yang sepi dan masih banyak kebun penduduk. Lumayan ngeri pikirku tapi sukurlah kang ojeknya orang baik. Ketika Yayang memesan ojeknya, dia juga menggunakan handphoneku karena ia kehabisan batre, oleh karena itu, kami tidak bisa menghubunginya. Tiba-tiba notifikasi ojek milik Yayang sudah tiba di lokasi tujuan dan terpikir untuk menelpon nomer ojek yang dinaiki Yayang. Akhirnya, setelah di instruksikan kami pun mulai mengarah ke jalan yang benar dan saat di perjalanan Yayang menelpon karena Hp nya sudah menyala. Aku memintanya menunggu di depan rumah, dan tak lama kami pun tiba di depan rumahnya. Tiba di rumah Yayang, kami menghabiskan makan malam yang telah kami beli tadi kemudian bersiap istirahat walaupun tertidurnya cukup larut karena diisi acara mengobrol terlebih dahulu.

Minggu, 11 September 2016

Kampung Budaya Sindangbarang

Setelah bangun pagi, aku dan Yayang masih bermalas-malasan sambil menunggu Citra berangkat. Setelah Citra menginfokan dia akan segera naik kereta, kami mulai bergerak dan menggoreng Pempek. Kebetulan beberapa hari yang lalu aku dikirimi pempek dan kami bertiga, juga sama-sama orang Palembang. Setelah sarapan aku bergegas mandi dan tak lama terdengar suara Citra yang sepertinya baru saja datang. Hari ini, kami berencana pergi ke Kampung Budaya Sindangbarang di Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari. Tapi, karena belum semuanya bersiap, kami baru bisa berangkat pukul 1 siang. Rencana awal memang naik motor, tapi karena motor yang satunya khawatir tidak mampu menanjak, kami pun memesan taksi online. Setelah taksi didapat, kami mulai bergerak ke tujuan kami. Ternyata, sopirnya orang Jakarta dan belum paham daerah sini, belum lagi tidak satupun diantara kami yang pernah ke Kampung Budaya Sindangbarang, sehingga kami pun bergerak menggunakan instruksi dari Google Maps. Semula jalan yang kami lalui beraspal seperti biasa, namun semakin lama semakin menyempit dan berubah menjadi jalanan menanjak dan berbatu. Ada rasa tidak enak hati karena membiarkan pak sopir mengantar kami melewati jalan yang seperti ini, namun mau berputar pun sulit hingga akhirnya kami pun tiba di depan kawasan Kampung Budaya ini. Ternyata, ada jalan lain yang lebih nyaman dilalui, sehingga pak sopir pun bisa pulang dari jalan tersebut.
Kondisi jalan mirip seperti ini saat masih di mobil

Dari area parkirannya, kami harus berjalan kaki melalui jalanan yang menanjak dan menurun dengan mengikuti pagar pembatas kampung ini untuk masuk ke pintu gerbang kampung. Tepat sebelum masuk kampung ada dua persimpangan yakni ke kanan dan ke kiri. Ke Kanan jalannya menurun ke bawah dan di sana terdapat kebun, bangunan Musholla serta penginapan seperti villa sederhana. Tujuan utama kami adalah ke Kiri dengan menaiki beberapa anak tangga dan untuk masuk ke sini, dikenakan biaya karcis sebesar Rp 10000 per orang.
Sebelum Masuk Kampung - Gerbang Menuju Area Kampung
Jalan ke Kanan (ke Villa, dll) - Tangga ke Kawasan Wisata

Di tengah kampung ini terdapat lapangan hijau yang luas, bersih dan indah di pandang mata. Hampir sekelilingnya terdapat bangunan yang menjadi daya tarik wisata di kampung ini. saat pertama masuk, di sebelah kanan ada pendopo besar yang disebut Bale Riungan atau sama fungsinya seperti aula. Di sebelah kiri berjejer beberapa bangunan di sepanjang pinggiran lapangan yakni Imah Panengen, Pesanggrahan, 6 buah leuit (lumbung), dan satu saung lesung di paling ujung. Di ujung seberang, tedapat Imah Gede, Girang Serat dan Saung Talu.
Peta Kawasan Kampung Budaya Sindangbarang

Awalnya kami bingung harus kemana dahulu, sehingga kami hanya berfoto-foto saja di sekitar lumbung dan saung lesung. Setelahnya, kami bergerak ke arah Saung Talu dimana terdapat banyak alat musik tradisional. Ketika Citra dan Yayang berjalan ke dalam Saung Talu, aku penasaran dengan bangunan rumah di sebelahnya (mungkin bangunan Girang Serat) yang di terasnya terdapat banyak bingkai yang berisi informasi seputar kampung ini. Ketika sedang membaca-baca informasi, seorang ibu datang dan duduk di bangku teras. Beliau bernama Bu Ella, semula aku hanya tau beliau adalah salah satu pengurus kampung budaya ini karena beliau yang memberikan kami tiket saat masuk tadi. Aku memberanikan diri untuk menyapanya dan berbincang singkat, tak lama Yayang datang dan memulai beberapa pertanyaan seputar kampung ini.
Atas: Saung Talu - Girang Serat - Imah Gede
Bawah: Saung Lesung - Leuit (Background) - Pesanggrahan

Beliau memulai ceritanya dari kegiatan adat yang rutin diselenggarakan tiap tahun yakni Seren Taun yang merupakan acara syukuran hasil panen. Biasanya acara ini diselenggarakan tiap bulan Oktober dan tebuka untuk umum. Ketika acara sedang diselenggarakan, wisatawan bebas datang dan memakan makanan yang tersedia secara gratis. Sebelum dimulainya acara untuk umum, sudah dilakukan prosesi Neutepkeun dan Ziarah. Neutepkeun merupakan acara yang dimaksudkan untuk memanjatkan niat agar acara Seren Taun berlangsung dengan lancar. Prosesi ini dilaksanakan di Imah Gede. Kemudian dilanjutkan dengan ziarah ke makam  Sang Prabu Langlangbuana dan Prabu Prenggong Jayadikusumah di Gunung Salak. Saat acara Seren Taun berlangsung, ada prosesi pengambilan air dari 7 mata air (Ngangkat Ngakuluan). Perjalanan pengambilan air ini diiringi dengan kesenian Angklung Gubrag, Sedekah Kue, Nugel Mbe dan Munday Lauk. Sedekah Kue dilakukan dengan menyiapkan 40 tampah berisi beraneka kue dan setelah acara pembacaan doa barulah warga dan anak-anak memperebutkan kue-kue yang ada. Selanjutnya dilakukan kegiatan Nugel Mbe atau pemotongan domba. Kemudian, ada pula acara yang sangat sayang untuk dilewatkan yakni Munday Lauk (menangkap ikan di kali). Ratusan warga masuk ke kali untuk menangkap ikan sambil diiringi alat musik tradisional. Acara ini memakan biaya yang tidak sedikit, sehingga setiap iuran tiket yang dibayar oleh wisatawan dipergunakan untuk rangkaian acara Seren Taun ini. Walaupun sudah ada dana dari pemerintah, tapi belumlah cukup untuk membiayai seluruh rangkaian kegiatan yang ada. Bahkan, warga pun ikut menyumbang agar kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik.

Di wilayah Kampung Budaya Sindangbarang terdapat beberapa penginapan berupa rumah dengan kapasitas sekitar 7-10 orang. Harga sewanya Rp 1.700.000 per hari. Selain itu, ada 1 rumah yang lebih besar dengan kapasitas 15-20 orang dengan harga sewa Rp 3.500.000 per hari. Hanya ada beberapa rumah yang menyediakan fasilitas toilet di dalam rumah, karena menurut adat tidak diperbolehkan adanya toilet di dalam rumah. Oleh karena itu, kampung ini tidak lagi disebut sebagai kampung adat seperti dahulu karena tidak diperbolehkan melakukan hal-hal yang dilarang adat, sehingga diubah fungsinya menjadi kampung budaya agar bisa membangun penginapan yang didalamnya terdapat toilet serta diperbolehkan untuk mengadakan kegiatan lain seperti praktik menanam padi.

Wilayah kampung ini merupakan kampung tertua di zaman Kerajaan Padjajaran, sehingga tersebar banyak situs-situs bersejarah. Kurang lebih terdapat 36 situs, walaupun baru ada 6 situs yang telah diakui. Kunjungan ke situs-situs ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan di pagi hari bagi wisatawan yang menginap di Kampung Budaya ini, sembari berjalan berkeliling di sawah dan kebun. Selain itu, ada banyak paket wisata yang ditawarkan untuk merencanakan liburan yang lebih berkesan di kampung ini. Berbagai informasi paket bisa dilihat langsung di situs resmi Kampung Budaya Sindangbarang.

Setelah selesai berbincang-bincang dengan Bu Ella, kami sempatkan berjalan-jalan lagi dan masuk ke dalam Bale Riungan. Tempat ini merupakan pendopo yang cukup luas dan terdapat beberapa galeri foto saat sedang berlangsungnya acara di kampung ini. Sebelum pulang, kami memutuskan turun ke bawah melihat suasana penginapannya dan sholat dahulu di musholla dekat penginapan. Airnya sungguh segar, namun perlahan suasana menjadi mendung dan turun hujan ringan. Kami pun tertahan dan menunggu hujan reda di Musholla. Setelah hujan reda, kami berencana pulang dan berjalan menuju area parkiran dimana kami pikir akan ada kendaraan yang membawa kami pulang.
Di dalam Bale Riungan

Setibanya di parkiran, ternyata, tidak ada kendaraan apapun di sini kecuali kendaraan pribadi. Saat itupun jumlah kendaran yang parkir hanya sedikit. Kami pun mencoba memesan ojek online, tetapi tak kunjung ada yang mengambil pesanan kami. Akhirnya, kami bertanya kepada ibu-ibu pemilik warung di dekat parkiran tentang kendaraan yang bisa kami pakai untuk pulang dari sini. Beliau memberi tahu biasanya ada ojek yang mangkal, tetapi saat ini sedang kosong sejak siang tadi dan tidak dapat dipastikan apakah akan ada ojek yang datang sore ini. Kami mulai khawatir dan berfikir untuk mulai menyusuri jalan aspal ini, barangkali ada ojek atau angkutan lain yang bisa kami naiki. Menurut informasi jalannya lumayan jauh, tapi tidak apa-apa jika ingin dicoba.

Kami pun berjalan kaki menyusuri jalan menanjak dan menurun sambil melihat-lihat pemandangan yang benar-benar asri, tapi sudah cukup jauh kami berjalan, belum ada kendaraan yang menawarkan jasa angkutannya bahkan hari pun mulai mendung dan kekhawatiran kami bertambah jika hujan turun. Kami pun mempercepat langkah hingga kami memasuki perkampungan yang cukup ramai dan ada sebuah angkot di halaman rumahnya. Ternyata, angkotnya baru akan narik penumpang dan berjalan menuju kota sehingga kami ditawari dan langsung bergegas naik ke angkot. Belum lama kami berjalan, tiba-tiba hujan yang sangat deras turun. Syukurlah kami tiba di angkot di waktu yang tepat hingga kami pun tiba di kota Bogor dan mampir dahulu ke Mall BTM Bogor untuk makan siang yang kesorean. Setelah makan, hujan tidak sederas sebelumnya, kami berencana ke Botani Square karena ada yang akan di cari di sana. Setelah itu, kami mencari jajanan lagi di sekitar sini kemudian pulang ke rumah Yayang untuk beristirahat.
View Food Court BTM

Senin, 12 September 2016

Curug Nangka, Curug Daun dan Curug Kawung

Hari ini, kami berencana pergi ke kawasan Curug Nangka yang di dalamnya terdapat 3 curug lainnya. Kawasan ini berada di Kaki Gunung Salak dengan ketinggian sekitar 750 mdpl, tepatnya berada di Desa  Warung Loa, Kecamatan Taman Sari, Bogor. Setelah berbagai persiapan dan malas-malasan, kami baru siap berangkat pukul 1 siang. Kali ini kami menggunakan ojek online dan satu persatu ojek pesanan kami datang. Kebetulan aku dapat kang ojek yang merupakan warga asli sehingga sepanjang perjalanan ia bercerita tentang berbagai lokasi wisata di Bogor dan seolah sedang diantar oleh tour guide. Sayangnya, kami tidak memiliki banyak waktu untuk berkunjung ke tempat lainnya, karena sore ini kami harus segera ke stasiun dan kembali ke Jakarta.

Mendekati kawasan Curug Nangka, tepatnya di persimpangan dekat pangkalan angkot dan ojek, tiba-tiba ada yang berteriak. Motor yang saya naiki berada paling depan dari barisan kami bertiga, dan kukira suara tersebut hanya komando untuk memarkir mobil angkot, jadi kami pun jalan terus sampai akhirnya kami tiba di depan gerbang Curug Nangka. Ternyata, ada seorang tukang ojek pangkalan yang sedari pangkalan tadi mengikuti kami dan langsung marah-marah. “Bapak ga denger saya teriak ga boleh lewat tadi?”, begitu katanya saat pertama “menyapa” kami. Untunglah tukang ojek kami tidak ada yang terbawa emosi dan menjawab dengan tenang. “Maaf pak, saya tidak dengar. Saya kira sedang ngatur parkir angkot. Saya juga ga tau kalo di sini kami ga boleh lewat, saya cuma melaksanakan kewajiban saya mengantar penumpang sampai ke tujuan, lagian rejeki udah ada yang atur kan pak. Kita sama-sama cari rejeki, toh kami ga narik penumpang dari sini”, begitulah kurang lebih ringkasan penjelasan dari tukang ojek kami. Walaupun dengan raut muka yang masih tidak senang, perdebatan tidak begitu panjang dan tukang ojek pangkalan pun kembali ke pangkalannya dan sempat berkata “jangan ngambil penumpang di sini”. Agak was-was juga karena ketiga tukang ojek kami harus lewat lagi ke kawasan pangkalannya saat pulang, kami hanya berharap semoga mereka tidak mendapat masalah lagi dan bisa pulang dengan aman.
Gerbang Curug Nangka

Memasuki kawasan Curug Nangka, kami membayar tiket masuk Rp 10.000 per orang dan kami masih harus berjalan lagi sekitar 1.5 km melewati jalan aspal yang di sampingnya merupakan kawasan hutan pinus. Sebelum tiba di area air terjun, kami melewati beberapa fasilitas wisata seperti Parkiran, warung-warung, Mushola, Toilet serta camping ground. Kemudian, kami langsung menuju air terjun yang pertama yakni Curug Nangka.
Peta Kawasan - Hutan Pinus

Jalan aspal sudah tidak ada lagi, dan kami turun menuju aliran sungai dangkal, berbatu-batu dan ditutupi oleh tebing di kanan dan kirinya. Aliran air yang kami lewati sangat segar dan luar biasa jernihnya. Untuk menuju Curug Nangka, kami harus berjalan menyusuri sungai ini sampai ke ujung aliran dan menjumpai keindahan Curug Nangka.
Menuju Curug Nangka

Walaupun saat itu sedang ramai, tetapi suasana dinding jurang yang tinggi dan lebar hampir mengelilingi area air terjun serta rimbunnya pepohonan di atas tebing, menciptakan suasana yang redup, magis namun sangat menakjubkan. Ada rasa menyesal karena tidak membawa pakaian ganti, karena kesegaran air disini benar-benar menggoda.
Curug Nangka

Curug Nangka dari Dekat

Setelah puas memandangi dan menikmati segarnya hembusan angin dan percikan air di Curug Nangka, kami kembali menyusuri sungai yang telah kami lalui sebelumnya, dan naik ke tepian sungai menuju Curug Selanjutnya. Menurut informasi, selanjutnya kami akan menemukan Curug Daun, namun karena tidak menjumpai petunjuk jalan dan sepertinya Curug Daun tidak begitu tinggi, kami melewatkannya, walaupun aku mencurigai satu kawasan yang sepertinya Curug Daun.
(Mungkin) Curug Daun

Kami pun terus melanjutkan perjalanan menanjak melewati Pos Pemantauan dan akhirnya tiba di Curug terakhir dan paling tinggi lokasinya di kawasan ini, yakni Curug Kawung. Sepanjang perjalanan dari Curug Nangka ke Curug Kawung, terdapat banyak penjual makanan mulai dari Mie Instan, Gorengan serta minuman hangat. Kami memutuskan untuk makan Mie di sekitar Curug Kawung sebagai makan siang kami dan duduk bersantai di sini. Suasananya terasa lebih ramai di sini, karena areanya lebih terbuka dibanding Curug Nangka. Kami menghabiskan beberapa saat disini sembari menikmati kuah mie yang hangat dipadukan dengan percikan air tejun yang terbawa angin. Lagi-lagi, hasrat ingin nyebur pun muncul dan harus diurungkan karena tidak membawa pakaian ganti.
Curug Kawung

Setelah dari Curug Kawung, kami kembali turun dan berhenti di beberapa titik untuk jajan gorengan serta minum-minuman hangat lagi. Setelah cukup puas, kami bergerak untuk pulang dan menyempatkan sholat terlebih dahulu di Musholla yang telah disediakan. Saat akan berjalan pulang, kami agak bingung karena angkot masih jauh yakni berada di persimpangan tempat pangkalan ojek tadi. Kami juga tidak berani memesan ojek online karena insiden sebelumnya dan menjadi tidak mau memesan ojek dari sini karena merasa tidak senang dengan cara mereka sebelumnya. Kami sempat melihat angkot carteran mahasiswa dan mencoba peruntungan barangkali ada sisa tempat dan bisa kami naiki. Sayangnya, supir angkotnya tidak bisa menjamin ada atau tidak kursi lebih karena belum tahu pasti jumlah mahasiswa yang akan naik. Kami dipersilahkan menunggu jika bersedia, dan kami pun menunggu karena angkot ini harapan kami satu-satunya agar tidak berjalan jauh. Ternyata, rejeki belum berpihak karena ada beberapa anak yang sakit dan harus digotong serta harus diberi tempat yang agak luas. Kami pun mulai kehilangan harapan pada angkot dan mulai mempercepat berjalan kaki menuju persimpangan yang berjarak sekitar 1 km lagi dari gerbang karena hari yang mulai berubah mendung. Walaupun cukup jauh, udara yang teduh dan segar cukup mendukung, hingga tak terasa kami tiba di pangkalan angkot.

Kami segera naik salah satu angkot yang sedang ngetem, namun setelah di tunggu hampir satu jam, angkot ini belum juga berjalan. Kami sempat melihat angkot yang lewat di simpang jalan dan langsung bergerak tanpa ngetem dahulu, segera kami keluar dari angkot dan naik angkot yang lewat di simpangan tersebut. Kami sempat dipanggil angkot yang kami naiki sebelumnya, tapi tak kami gubris karena sudah kesal menunggu terlalu lama. Angkot pun melaju ke arah Kota Bogor, namun kami berhenti di Simpang Pancasan dan dilanjutkan dengan naik ojek online menuju rumah Yayang.

Note: Untuk transportasi umum ke Curug Nangka jika dari Bogor Trade Mall (BTM), bisa naik angkot dengan jurusan Ramayana – Ciapus, dan berhenti di pertigaan sebelum Curug Nangka tempat banyak angkot ngetem. Dari sini, satu-satunya transportasi umum yang “diperbolehkan” masuk adalah ojek di sekitar. Opsi lainnya, jalan kaki 1 km ke gerbang Curug Nangka.


Setibanya di rumah Yayang, azan Magrib telah berkumandang, sehingga kami baru bergerak ke stasiun setelah sholat Magrib. Citra yang tiba lebih dulu, berangkat lebih dulu ke stasiun sebelum Magrib, kemudian disusul aku yang langsung bergerak setelah sholat Magrib. Ternyata, ojek yang aku pesan ke Stasiun ini adalah Ojeknya si Yayang saat kami menuju Curug Nangka siang tadi. Kusempatkan bertanya kondisi saat pulang tadi, dan untungnya tidak terjadi apa-apa hanya diperingatkan lagi oleh ojek pangkalan bahwa jangan mengambil penumpang dari area Curug Nangka. Kami pun tiba di Stasiun dan aku harus mengantri tiket dahulu karena saldo kartuku kurang dan sisa di ATM pun tidak mencukupi untuk top-up... suram. Kereta Citra sudah berangkat dan Yayang sudah masuk ke dalam Stasiun. Untunglah, walaupun ramai aku tidak terlalu lama mengantri dan segera kami naik ke kereta menuju Stasiun Juanda dan pulang ke kost masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar