Blog ini dibuat untuk mendeskripsikan berbagai potensi yang ada di bumi ini. mulai dari panorama, seni budayanya, makanan khas, hingga adat istiadatnya.

Tujuan saya menulis blog ini, tak lain untuk membiasakan diri untuk sering menulis dan semoga tulisan ini bisa menjadi referensi bagi pembaca dan saya sendiri. Maka dari itu, saya berusaha merangkum kondisi tempat yang bagi saya menarik serta pengalaman saya mengunjungi suatu tempat.

Semoga berguna bagi kita semua. :)

Senin, 27 Januari 2014

Overland menuju Chiang Mai dan Chiang Rai, Thailand (16 – 25 Januari 2014) - Part 1


Thailand bukan hanya Bangkok, Phuket atau Pattaya. Beragam pengalaman menarik dan berbeda, bisa saya dapatkan di Thailand Utara yakni Provinsi Chiang Mai dan Chiang Rai yang merupakan provinsi paling utara. Tepatnya tanggal 16 Januari 2014, hampir seluruh rombongan NGS dari Unsri, Palembang pulang ke tanah air karena sudah menyelesaikan studi satu semester di UTM, Johor, Malaysia. Beberapa orang diantaranya, pulang di tanggal berbeda dan salah satunya saya yang akan menuju bagian utara Thailand hingga Golden Triangle, perbatasan 3 negara yakni Thailand, Myanmar dan Laos.


  • 16 Januari

Pukul 08:00 pagi, semua diantar menuju LCCT dan sebagian yang pulang esok hari diantar menuju UTM Kuala Lumpur untuk menginap semalam. Saya ikut ke UTM KL untuk repacking. Malamnya, diantar menuju KL Sentral dan saya langsung bergerak menuju PODs The Backpacker Home yang berada tepat di belakang KL Sentral untuk menitipkan koper karena hanya akan membawa satu ransel menuju Thailand. Kali ini saya hanya pergi sendiri, mencoba untuk solo travelling walaupun awalnya agak ragu karena sedang gencarnya demo di Bangkok serta belum tau bagaimana keadaan Thailand jika pergi sendiri. Namun, akhirnya setelah membulatkan tekad, perjalanan di mulai. Dari KL Sentral, saya naik Keretaapi Tanah Melayu (KTM) pukul 21:30 waktu Malaysia (GMT +8) menuju Hat Yai, Thailand Selatan.



  • 17 Januari

Perjalanan memakan waktu cukup lama dan cukup beruntung saya bisa menyaksikan sunrise dari atas kereta. Sekitar pukul 9 pagi, tiba di Padang Besar untuk keperluan imigrasi keluar Malaysia dan masuk Thailand. Di sini juga ada food court jika ingin sarapan terlebih dahulu karena kereta baru akan bergerak lagi sekitar 1 jam kemudian. Tiba di Hat Yai sekitar pukul 10:30 waktu Thailand (GMT +7), tepat waktu dengan yang tertera di tiket.
Hatyai Junction



Setibanya di stasiun Hatyai, tiba-tiba blank saat di datangi calo-calo. Langsung ikut dan lupa tujuan awal untuk membeli tiket kereta dulu. Alhasil malah minta refill top-up tetapi malah di paksa beli kartu seharga 315 baht. Saya kira sudah dipasang paket internet, ternyata belum. Naas, baru dateng langsung ketipu. Tapi kali ini harus jadi pelajaran di kemudian hari. Akhirnya saya langsung membeli tiket kereta menuju Bangkok dan mencoba sleeper train dengan tiket seharga 845 baht untuk keberangkatan pukul 15:39. Lanjut ke informasi dan bertanya tempat refil top-up dan di arahkan menuju Robinson didepan stasiun. Di sana saya menemukan outlet DTAC dan segera minta dipasangkan paket internet satu minggu dengan biaya 199 baht.

Untuk mengisi waktu sebelum kereta berangkat, saya hanya keliling-keliling dekat stasiun menuju tempat makan di depan stasiun yang rata-rata halal serta perkampungan di belakangnya. Berhubung takut nyasar, saya kembali lagi ke robinson untuk sekedar cuci mata. Pukul 15:00 kembali ke stasiun dan ternyata kereta terlambat. Bingung kereta mana yang akan saya ambil, bertanya ke sana kemari tidak dapat juga info yang jelas. Bahkan sekuriti pun tidak dapat menjelaskan dengan bahasa inggris. Sangat mengejutkan, justru seorang bapak-bapak yang cukup berumur yang bisa membantu saya menjelaskan dengan bahasa Inggris, bahkan menemani hingga kereta datang sekitar pukul 16:40.

Sleeper train ternyata sangat nyaman. Sekitar pukul 6 sore, kursi di ubah menjadi tempat tidur dan kebetulan saya mengambil lower berth sehingga bisa sambil melihat pemandangan. Kawasan bagian selatan Thailand ini memiliki banyak sekali tebing” tinggi dan sangat cantik untuk dipandang selama perjalanan. Di kereta ini, setiap tempat tidur, di tutup dengan tirai untuk menjaga privasi. Pokoknya top banget!
Sleeper Train

  • 18 Januari
Saya kira bakalan dibangunkan pagi hari untuk mengembalikan posisi kursi, tapi ternyata tidak. Tempat duduk justru baru dibereskan saat hampir tiba di Bangkok dan kereta ini tiba sangat terlambat sekitar 4 jam karena baru tiba di Bangkok sekitar pukul 15:30. Sayangnya, pagi ini saya tidak menyaksikan sunrise karena bagian tempat tidur saya, jendelanya menghadap barat.

Tiba di Stasiun Hua Lamphong, Bangkok, tidak di sangka-sangka saya justru mendapatkan teman seorang mahasiswa dari Jogja yang juga travelling sendiri. Berhubung belum izin pada orangnya untuk mencantumkan identitas diri, maka nama akan saya samarkan menjadi “Budi”. Kebetulan Budi sudah bingung ingin kemana karena menuju phuket atau pataya harus menggunakan bis dan untuk menuju terminal, banyak jalan yang di tutup karena #BangkokShutdown. Akhirnya, dia memutuskan untuk bareng menuju Chiang Mai. Segera memesan tiket kereta kelas 3 menuju Chiang Mai dengan harga 271 baht/orang. Kereta berangkat pukul 22:00 dan untuk menunggu keberangkatan, kami mengisi daya baterai yang ternyata colokannya bisa kami temukan di Musholla stasiun. Di food court Stasiun Hua Lamphong, juga teresdia satu tempat yang menjual makanan hallal dengan beragam menu dan salah satunya nasi goreng dengan rasa yang cukup lezat.
Hua Lamphong Railway station - Bangkok

Pukul 21:30 selepas membeli perbekalan makanan untuk di jalan, kami segera masuk ke kereta dan ternyata keadaan keretanya lebih mengerikan dibanding kereta ekonomi di Indonesia. Ya, nikmati sajalah. Semakin malam dan subuh, suhu terasa sangat dingin, belum lagi sudah memasuki kawasan utara Thailand di bagian pegunungan. Bahkan, di dekat kami bule-bule pun pada pake sleeping bag untuk tidur.
3rd Class Train

  • 19 Januari
Menjelang siang pun masih terasa dingin, hingga sekitar pukul 13:30 kami tiba di Stasiun Kereta Chiang Mai. Hanya terlambat sekitar setengah jam dari waktu yang tertera di tiket. Dengan menggunakan Songtaew, kami menuju old town dan mencari guest house di kawasan tersebut. Rata-rata semua full, khususnya single room. Karena tak kunjung menemukannya, akhirnya kami hanya mendapatkan dormitory di Same same guest house, dengan 100 baht per orang dan 4 orang dalam satu kamar. Untungnya salah seorang penghuni kamar yang berasal dari China sangat ramah dan yang satunya lagi hanya muncul saat waktunya tidur, sehingga kami tidak begitu mengenalnya.

Selepas beristirahat sebentar dan mandi, kami langsung berjalan menuju wat-wat di sekitar Old Town. Ternyata oh ternyata, hari ini minggu dan waktunya “Sunday Walking Market” di Old Town Chiang Mai. Rata-rata produk yang di jual adalah handcraft dengan kesan etnik yang kental. Benar-benar menggoda mata. Parade budaya di jalanan juga dihadirkan di sini seperti drama boneka, parade dengan baju adat sambil memainkan alat musik sambil menari dan berjalan, serta pentas seni tari oleh anak-anak. Pasar mingguan ini, ternyata sangat luas dan membuat kami bingung untuk menahan rasa ingin membelinya, karena harganya yang sangat murah. Akhirnya, sebelum banyak berbelanja, kami mencari makan dulu di Anusarn Market dan menemukan makanan yang rasanya kurang selidah dan harganya mahal. Namun, tetap di santap juga karena lapar.

Setelah makan, kami kembali menuju Sunday Walking Market untuk membeli beberapa barang. Menjelang malam, saya pulang duluan ke guest house untuk beristirahat, sedangkan Budi masih berkeliling sendiri.
Kota Tua di Dalam Tha Pae Gate, Chiang Mai

  • 20 Januari
Pukul 08:00 pagi, kami segera keluar untuk menyewa motor menuju Doi Inthanon National Park. Suhu pagi yang dingin, membuat kami tidak sanggup untuk mandi pagi di provinsi ini. Sewa motor 200 baht per hari dan setelah membeli beberapa roti kami langsung bergerak ke Doi Inthanon dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Suhu yang dingin menjadi tantangan yang berat, bahkan terasa sampai ke kepala. Pagi itu, suhu sekitar 13˚C saat masih di kawasan yang tak jauh dari Old Town. Memasuki national park, harga tiket dewasa 200 baht dan anak-anak 100 baht. Untuk motor 20 baht dan mobil 40 baht. Kagetnya, kami seperti dikira anak-anak dan hanya dikenakan tarif 100 baht/orang dan motor 20 baht.

Perjalanan menuju puncak, di suguhi beberapa spot keren yang membuat kami berhenti sesekali sebelum akhirnya benar-benar mencapai puncak. Banyak lokasi untuk camping serta tak disangka-sangka, kami melihat banyak sekali bunga sakura yang tumbuh di sini. Doi Inthanon merupakan Puncak pegunungan tertinggi yang di miliki Thailand dengan ketinggian sekitar 2565 meter di atas permukaan laut (mdpl). Suhu di kawasan pegunungan ini benar-benar dingin, dengan suhu terendah 2˚C. Saat kami berada di sini, termometer menunjukkan suhu 8˚C, sangat dingin bahkan saat berbicara mulut mengeluarkan asap.
Pemandangan di Perjalanan Menuju Doi Inthanon Summit, Chiang Mai
Puncak Doi Inthanon, Chiang Mai

Di atas sini juga terdapat sejenis souvenir shop dan kedai kopi untuk menghangatkan diri. Ada juga visitor center berupa ruangan kecil dengan beragam penjeleasan tentang flora dan fauna di taman nasional ini. Pusat pelaporan juga berada di puncak, namun dilarang di foto dan mungkin juga di larang masuk. Setelah puas mengambil beberapa foto serta menghangatkan diri dengan segelas kopi, kami segera turun karena kabut semakin turun dan suhu semakin dingin.
Puncak Doi Inthanon, Chiang Mai
History of Doi Inthanon

Sembari turun ke bawah, kami menyempatkan diri mengunjungi the great holy relics pagoda of Naphamethanidon dan Naphapholphumisiri yang berada tak begitu jauh dari puncak. Biaya masuk 40 baht untuk dewasa. Kali ini, kami dikenakan tarif yang tepat walaupun berharap dikira anak-anak lagi. Hahaha. Komplek pagoda ini sangat luas dan menyuguhkan pemandangan indah dari ketinggian. Kawasan taman juga ditata sangat rapi dengan beragam bunga warna warni serta sayur-sayuran seperti kol dan kubis yang terlihat sangat cantik. Sangat indah, namun tetap saja, suhu dingin sangat terasa, apalagi saat naik ke kawasan dekat pintu masuk pagoda.
Naphamethanidon

Lanjut turun ke bawah untuk menuju air terjun. Berhubung terlalu banyak, dan waktu sudah siang dengan perut yang lapar, kami memutuskan untuk masuk ke satu air terjun saja yakni Mae Klang. Tapi sangat disayangkan, ternyata masuk air terjun harus bayar lagi 100 baht per orang, akhirnya kami membatalkan menuju air terjun, karena rencananya hanya sebentar saja menikmati nuansa air terjun. Jadi, kami hanya duduk di dekat aliran sungai di luar gerbang masuk air terjun, sembari mengganjal perut dengan roti, karena jarak menuju tempat makan halal masih jauh.

Sekitar pukul 15:00, kami tiba di guest house untuk mandi dan istirahat sejenak sebelum mencari tempat makan. Sayangnya, tubuh terasa lelah dan rasa ingin makan masih kalah dibanding lelah. Alhasil keluar makan, hanya untuk makan malam.

Malam ini, kami mencari makan di sekitar jalan Chang Klan. Kami menemukan masjid dan bertanya pada orang didepannya yang tampaknya berbusana muslim. Beliau memberikan informasi makanan halal, walaupun hanya dengan bahasa isyarat. Akhirnya, kami menemukan rumah makan Bismilla di Chang Klan Rd dengan banyak sekali menu dan kami memesan nasi goreng daging yang rasanya sangaat enak. Hanya 40 baht saja, perut sudah terisi dengan lezatnya nasi goreng, bahkan Budi sampai memesan 2 piring nasi goreng.

lanjut ke Part 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar